Proses Pengajuan SIM

Posted on Updated on

Halo brothers and sisters ..

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman saya mengajukan pembuatan SIM C di Polresta Bekasi. Tanggal 12 Mei 2014 yang lalu tepatnya pukul 09 pagi saya berangkat menuju Polresta Bekasi bersama ayah saya menunggangi kuda putih Vario putih. Sesampainya di parkiran, saya dan ayah saya berjalan menuju kantor polisi tersebut sambil tengok kiri dan kanan mencari calo yg menawarkan jasa pembuatan SIM C dengan langsung foto dan langsung jadi. Sambil berjalan tiba-tiba seorang bapak-bapak memanggil kami dan langsung kami hampiri.
“Cari SIM ya pak ? Wah sekarang lagi bersih pak di dalam. Udah beberapa bulan ini. Mau perpanjang apa bikin baru ?”tanya si calo. “Bikin baru pak. Berapa harganya ?” tanya ayahku. “Sini KTP nya saya liat”, kata si calo. Seketika saya langsung memberikan 5 lembar foto copy KTP saya kepadanya. “Nih, pak”, kataku. “Ayo ikut ke kantor saya aja”, ajak si calo. Sambil berjalan menuju kantornya si calo tersebut memberi tahu ongkos jasa yang dia tawarkan kepada kami. “Ini 550 ribu harganya”, ucap si calo. “Hah ? Gak bisa kurang pak ?”, kata ayahku. “Udah harga pas, pak. Nanti aja ngomonginnya di kantor”, kata si calo. Sesampainya di kantor calo yang kira-kira berjarak 30 m dari tempat saya memarkirkan motor, calo tersebut langsung memberikan informasi tentang proses pembuatan SIM. “Sekarang lagi bersih dek, jadi nanti kamu ikuti petunjuk pembuatannya secara formal. Nanti kamu ikut tes teori tapi jawab aja ngasal, nanti hasilnya seperti ini bawa ke sini ya”, kata boss si calo kepada saya seraya menunjukkan kertaa biru. “Karena prosesnya 2 hari, jadi besok kamu ke sini lagi untuk foto”, tambahnya. “Saya cuma bawa 300 ribu ini, pak”, kata ayahku. “Gimana nih ?”, tanya si calo kepada boss nya. “Yaudah, gapapa 300 rb dulu. Besok pas ke sini dilunasi”. Ucap si boss calo. Lalu saya menyerahkan uang 300 ribu kepadanya. “Nih 100 ribu untuk bayar ke bank, 25 ribu buat tes kesehatan, 30 ribu buat asuransi, nanti yang 5 ribu kasih ke sini lagi”, ucap boss si calo sambil menyerahkan uang sebesar 160 ribu rupiah untuk proses pada saat nanti.
Lalu saya pergi ke sebuah bangunan yg letaknya di samping kantor polisi untuk tes kesehatan. Setelah itu saya menuju kantor polisi dan menuju ke tempat pembuatan SIM.

Pintu masuk tempat pembuatan SIM

Lalu saya menuju bank dengan menyiapkan uang 100 ribu rupiah.

              Gambar dari Google

“Bikin SIM C, mba”, kata saya kepada penunggu loket. “Seratus ribu mas”, jawabnya. Lalu saya menyerahkan uang tersebut dan menerima kertas untuk proses selanjutnya. “Ke loket asuransi ya mas, di sebelah,” tambahnya seraya menyuruh saya untuk proses berikutnya.

Setelah membayar asuransi, saya menuju Loket 1 untuk mengambil kertas formulir dan mengisinya di meja yang disediakan. Kemudian saya menuju loket 2 untuk kemudian menyerahkan kertas formulir yang telah lengkap diisi. Di situ saya emosi karena petugasnya asik dengan ponselnya. Saya menunggu sekitar 2 menit sampai dia selesai menggunakan ponselnya. Setelah itu, saya mendapat kertas untuk kemudian daftar untuk tes teori. Saya menunggu 10 menit untuk dipanggil menuju ruangan tes teori. “Bapak Aptantyo Widyo Kumoro”, teriak sang petugas memanggil saya. Kemudian saya masuk ke ruang tes teori. Di dalam juga mengantri karena banyak peserta dan karena pendataan. Setalah itu saya mengerjakan dengan sunggu-sungguh karena ingin tahu seberapa pantas saya berada di jalan raya untuk berkendara. Padahal tadi sang calo menyuruh saya mengerjakannya dengan asal-asalan saja. Kemudian kertas jawaban berhasil saya isi semua dan ternyata saya lulus. “Langsung tes praktek ya mas, di samping parkiran”, ucap sang pengoreksi jawaban. Saya merasa bangga lulus secara teori dan saya menghampiri ayah saya yang menunggu di luar dan langsung menuju lokasi tes praktek.

             Gambar dari Google

Saya mendaftarkan diri dan menyerahkan bukti lulus ujian teori kepada petugas. Peserta-peserta praktik mulai berguguran dan gagal karena kesalahannya sendiri. Peserta dituntut dapat mengendalikan motor jelek untuk tidak menyenggol balok dan menapakkan kaki ke jalan. Jika kalian bawa kendaraan, boleh kok menggunakan kendaraan pribadi. Saya keburu dipanggil petugas untuk langsung praktik, tidak sempat ambil kendaraan sendiri jadi terpaksa memakai motor petugas yang keadaannya sungguh memprihatinkan. Bahkan menurut saya para peserta gagal karena kagok menggunakan motor petugas yang seperti itu. Kemudian saya dipanggil dan langsung tes praktik. Jantung saya berdebar-debar sampai red line. Segala doa saya meminta kepada Allah SWT semoga lulus. Pertama saya dikasih uji coba sekali dan ternyata saya bisa πŸ˜€ dan kemudian saya dites sesungguhnya. Saat zig zag diantara balok saya merasa kagok karena motornya tidak enak. Jantung saya semakin berdebar. Saya menggunakan teknik saat berbelok kecepatan rendah badan tetap tegak hanya motor saya yang dimiringkan, dan akhirnyaaaaa taaraaaa .. saya mencapai garis finish .. horeeee πŸ˜€ . Saya lulus dan langsung mendapat bukti lulus tes praktik. Setelah itu suara adzan berkumandang dan langsung saya menuju masjid yang ada di parkiran polresta untuk menunaikan midday prayer. Setelah shalat berjamaah, ternyata ada tausyiah di masjid itu. Karena perut saya terasa sakit maag, saya kemuadian menuju kantin untuk makan dan minum karena dari semalam perut saya kosong. Hanya ayah saya yang masih di masjid. Kemudian selesai makan dan kebetulan ayah saya selesai juga, saya sekalian meminta uang untuk bayar makan πŸ˜€ . Uang saya utuh dehhh hihihi. Kemuan kami masuk ke dalam lagi untuk foto, ayah saya menunggu di tempat yang disediakan. Hanya ada 4 orang yang mengantri difoto dengan 2 petugasnya sehingga cepat sekali prosesnya. Setalah difoto, saya menunggu SIM C saya hingga jadi sekitar 3 menit. Setalah jadi saya langsung keluar dengan bangga. Dan kemudian saya berkata kepada ayah saya untuk tidak usah ke calo lagi. Karena SIM nya sudah ada, jadi buat apa ke calo lagi ? Ya kan ? πŸ˜‰ Setalah itu saya pulang dengan waktu menunjukkan 01.20 siang. Sesampainya di rumah, saya menghubungi calo untuk mengundurkan diri untuk jasanya. Urusan uang saya yang masih di calo ada 140 ribu itu diikhlaskan. Itung-itung sedekah. Kemudian saya melihat kalau SIM C lama saya masih berlaku hingga April 2015. Padahal sebelumnya saya melihat sampai 2014. Haduuuhhh mungkin saya sedang lelah waktu itu.

Mungkin anda bisa ikut acara Safety Riding untuk pembelajaran berkendara.

image

image

Gambar dari Google

Sekian cerita saya.
Sampai jumpa pada tulisan saya berikutnya πŸ™‚ .

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s